Kamis, 24 Maret 2016

Konsep Normal-Abnormal dalam Masyarakat

Bunga Anugrah Gusti
12514246
2PA07
Kesehatan Mental #



Pendahuluan

            Dilihat dari setiap segi pandangan. Konsep normalitas-abnormalitas adalah konsep yang bersifat relatif. Penyimpangan dari norma apa pun yang diterima seorang mungkin begitu kecil atau mungkin begitu mencolok sehingga kelihatan jelas sifat abnormalnya. Tetapi karena tidak ada dikotomi yang tegas, maka normalitas dan abnormalitas sulit dibedakan.
         Kebanyakan orang menerima bahwa penyesuaian diri yang baik sangat serupa dengan normalitas dan ketidakmampuan menyesuaikan diri dengan abnormalitas. Konsep-konsep ini berhubungan erat, tetapi artinya berbeda.

            DEFINISI NORMAL

·   Normal diartikan: sebagai keadaan sehat (tidak patologis) dalam fungsi keseluruhan (Maramis, 1999)
·   Perilaku normal adalah : perilaku yang adekuat yaitu serasi & tetap yang dapat diterima oleh masyarakat pada umumnya. (Kartini Kartono, 1999)
·      Perilaku pribadi normal : sikap hidup yang sesuai dengan pola kelompok masyarakat tempat ia ada sehingga tercapai relasi interpersonal & intersosial yg memuaskan (kk '89)

Kriteria Pribadi Normal:

Menurut (Gunarsa & Gunarsa, 1989) menutip pendapat A.H. Maslow:
-          Perasaan aman yg adekuat
-          Memiliki penilaian diri & wawasan yg rasional
-          Memiliki spontanitas & emosionalitas yang adekuat
-          Mempunyai kontak dengan realitas secara efisien
-  Memiliki dorongan & nafsu jasmani yang sehat serta kemampuan untuk memenuhi dan  memuaskan.
-          Mempunyai pengetahuan diri yg adekuat
-          Mempunyai tujuan hidup yang adekuat
-          Mampu belajar dari kemampuan hidupnya
-          Sanggup untuk memuaskan tuntutan & kebutuhan kelompok
-          Emansipasi yang pantas & sehat dari kelempok maupun kebudayaan
-          Memiliki integritas & konsisten kepribadian

Ada 2 pendekatan untuk pedoman tentang normalitas (prof. Suprapti Sumarmo 1976):

Pendekatan kuantitatif => berdasarkan patokan statistik, dengan melihat pada sering atau tidak terjadi berdasarkan perhitungan awam.
Contoh : perilaku makan 8 s.d 10 kali sehari

Pendekatan kualitatif => berdasarkan observasi empirik pada tipe-tipe ideal & sering terikat pada faktor sosial setempat.
Contoh : Perilaku menangis berlebihan hingga menjerit-jerit pada mereka yang sedang mengalami kematian disuatu lingkungan budaya.

DEFINISI ABNORMAL
·         Abnormal adalah : perilaku yang menyimpang dari yang normal (tidak biasa terjadi)
·         Perilaku Abnormal : perilaku yang tidak dapat diterima umum.
·         Kriteria Pribadi Abnormal : Kelangkaan statistical (statistical Infrequency)
Tingkah laku abnormal diasumsikan dlm "populasi kurva normal" yg menempatkan mayoritas individu berada ditengah & sangat sedikit yang berada pada posisi ekstrim. Jadi, seseorang dianggap normal bila orang tersebut tidak menyimpang jauh dari rata-rata atau perilaku tsb.
-          Pelanggaran Norma (Volition of Norm)
    Tingkah laku yang menyimpang dari norma sosial & mengancam atau membuat cemas orang yang mengamatinya. Misalnya: kekerasan, psikopat, schizofrenia
-          Penderita Pribadi (Discomfort/personal Distress)
      Suatu perilaku dmn individu secara personal merasa berada dlm situasi penuh tekanan baik stress dari lingkungan maupun kondisi dari dlm dirinya.  Misalnya : depresi, cemas yang berat (rasa sakit ketika melahirkan)
-          Disabilitan/Disfungsi (Mal Adaptive Behavior)
      Ketidakmampuan individu dalam beberapa bidang penting dalam hidup baik hubungan kerja/pribadi. Contoh: penderita narkoba mengalami gangguan dlm pekerjaan/pribadi
-         Tidak diharapkan (Unexpectedness)
   Suatu respon dari perilaku yg tidak diharapkan terhadap stresor lingkungan karena sudah diluar proporsi. Contoh: Kecemasan yang sangat & terus menerus terhadap hartanya walaupun tergolong kaya.
Lebih lanjut W.B. Maher & Maher (1985), menjelaskan kategori tingkah laku yang abnormal yaitu:
-        Tingkah lakunya berbahaya terhadap diri sendiri maupun orang lain
-          Kontak realitas yg buruk
-          Reaksi emosional yg tidak sesuai terhadap situasi
-          Tingkah laku tidak menentu (aneh)/beralih tanpa dapat diramalkan

DEFINISI PSIKOLOGI ABNORMAL

Sehingga Psi. Abnormal adalah:
Suatu ilmu yang mempelajari sifat-sifat & perkembangan gangguan jiwa mempelajari mengapa orang berperilaku, berpikir dan merasa dalam cara yang tidak diharapkan mencegah, mengurangi dan menyembuhkan.

ETIOLOGI
o   Primer (Primary Causes): Kondisi yg harus ada seandainya gangguan itu terjadi. 
   Penyebab: biasanya hal yang mutlak tapi tidak selalu mencukupi untuk melahirkan perilaku abnormal. Justru banyak gangguan perilaku yang lahir bukan karena penyebab utama.
o   Predisposisi: Penyebab yang sifatnya kecenderungan yaitu kondisi yang datang sebelum terjadi gangguan pada kondisi tertentu. Contoh: keterikatan pada ibu.
o    Aktual (precipitating causes): Kondisi yang secara langsung memberi efek pada terjadinya gangguan dan bertindak sebagai pemicu
o   Penguat (Reinforcing causes): Kondisi yang cenderung memelihara perilaku hal adaptif yang telah/sedang terjadi. Contoh: Over protektif.

DEFINISI PARADIGMA

Paradigma : sekumpulan asumsi dasar yg bersama-sama memberi definisi/menetapkan bagaimana caranya memberi konsep, mengumpulkan & menginterprestasikan data, memikirkan tentang fakta / pokok persoalan khusus.
Aliran dalam paradigma, yaitu:
ü  P. Biologis 
      Proses tubuh yang menyimpang, sebagai memusatkan pada faktorgenetis & biokimia. Paradigma ini berhubungan dengan gangguan menyimpang: patologis, diklasifikasikan berdasarkan simptom. Klasifikasi disebut diagnosis, sedangkan proses yg dirancang untuk mengubah PL : terapi. Genetika perilaku : studi tentang perbedaan individu dalam PL yang sebagian disebabkan oleh perbedaan genetik.
ü  P. Psikoanalisa
      Memusatkan perhatian pada depresi & proses tidak sadar, dmn paradigma menyelidiki kehidupan awal serta proses tidak sadar pada pasien sbg penyebab abnormal. Dengan kata lain gangguan akibat insting Id yang kuat yang mengatur/menentukan terhadap perkembangan konflik yang tidak disadari terkait terhadap psikoseksual tertentu.
ü  P. Behavioris (belajar)
      Dilihat sebagai adapsi yang tidak efektif (menyimpang) sebagai hasil belajar mal adaptif/salah dalam mempelajari sesuatu yang baik tapi berhasil dalam belajar yang tidak baik.
ü  P. Kognitif
      Bagaimana orang memusatkan perhatian, menyusun pengalaman, bagaimana pengertian terhadap hal yg ditangkap & mengubah stimulus lingkungan ke dalam informasi yg berguna sehingga interprestasi irasional merupakan faktor utama dalam abnormalitas.
ü  P. Diathesis Stress
      Hasil interaksi antara suatu predisposisi kearah penyakit tertentu (diathesis) dengan stress dari lingkungan. Contoh: individu akan ke Jakarta, tetapi sudah terbayang situasi Jakarta yg tidak menyenangkan sehingga muncul rasa mual atau tidak enak padahal belum terjadi.

Ø  Beberapa ciri orang yang sehat-Normal:

Aspek Penyesuaian Diri
Ciri Perilaku
Sikap terhadap diri sendiri
Menunjukan penerimaan diri; memiliki jati diri yang memadai (positif); memiliki penilaian yang realistik terhadap berbagai kelebihan dan kekurangan.
Persepsi terhadap realitas
Memiliki pandangan yang realistis terhadap diri sendiri dan terhadap dunia orang maupun benda di sekelilingnya.
Integrasi
Bekepribadian utuh, bebas drai konflik-konflik batin yang melumpuhkan, memiliki toleransi yang baik terhadap stress.
Kompetensi
Memiliki kompetensi-kompetensi fisik, intelektual, emosional, dan sosial yang memadai untuk mengatasi berbagai problema hidup.
Otonomi
Memiliki kemandirian, tanggung jawab dan penentuan diri (self-determination, self direction) yang memadai disertai kemempuan cukup untuk membebaskan diri dari aneka pengaruh sosial.
Pertumbuhan aktualisasi diri
Menunjukan kecenderungan ke arah menjadi semakin matang, kemampuannya, dan mencapai pemenuhan diri sebagai pribadi.

Ø  Beberapa kriteria abnormalitas yaitu: 

o   Penyimpangan dari norma-norma statistik
            Abnormal merupakan sesuatu yang tidak lazim, atau secara harafiah yang menyimpang dari norma. Hal ini disebabkan karena hampir setiap kepribadian dapat kita gambarkan seperti sebuah kurva normal dimana terdapat dua arah yaitu kanan yang berarti positif dan kiri yang berarti negatif. Sebagai contoh, seperti sifat agresif dimana semakin jauh dari nilai rata-rata baik arah kiri maupun kanan, kita dapat menemukan agresifitas yang ekstreem (rendah atau tinggi), yang keduanya mempunyai motivasi negatif. Namun kriteria ini tidak cocok atau tidak sesuai untuk kepribadian lain seperti intelegensi sebab kendati sama-sama abnormal namun sifat genius jelas mempunyai nilai positif. Sedangkan sifat idiot mempunyai nilai negatif. 

o   Penyimpangan dari norma sosial
            Menurut kriteria ini, sifat tidak patuh atau tidak sejalan dengan norma sosial. Dimana apa saja yang umum atau lazim adalah sesuatu yang normal. Terkadang di masyarakat terdapat suatu patokan yang pengandaiannya masih di ragukan kebenarannya. Pengandaian tersebut adalah apa yang dilakukan oleh mayoritas atau sebagian besar masyarakat maka hal itu selalu dikatakan baik dan benar.

o   Gejala “salah suai” (maladjusment)
            Abnormalitas di pandang sebagai ketidakefektifan individu dalam menghadapi menanggapi, menangani atau melaksanakan tuntutan dari lingkungan fisik dan sosial. Hal semacam ini jelas bersifat negatif, yang berarti tidak memperhitungkan bahwa individu dapat berpenyesuaian baik (well adjusted) tanpa memanfaatkan atau mengembangkan kemampuannya. Tidak sedikit orang yang di bilang “berhasil” dalam menjalani hidup, namun sebagai pribadi tidak berkembang secara maksimal.

o   Tekanan batin
            Abnormalitas dipandang sebagai perasaan-perasaan cemas, depresi atau sedih, atau perasaan bersalah yang mendalam. Namun ini bukan merupakan patokan yang baik untuk membedakan perilaku normal dari yang abnormal. Jika tekanan batin yang dirasakannya tak berkesudahan, mungkin merupakan indikasi bahwa ada sesuatu yang tidak beres. Tetapi bila ada seseorang merasa sedih karena terkena musibah, kekecewaan itu normal. Dan bila ada seseorang yang merasa gembira setelah ditinggal oleh orang yang disayangi, maka seseorang tersebut ddapat dikatan aneh sebab ia bersikap tidak wajar.

o   Ketidakmatangan
            Seseorang dapat dikatakan abnormal bila perilakunya tidak sesuai dengan tingkat usianya. Namun terkadang kita sering sulit untuk menemukan patokan tentang kemetangan itu sendiri. 

Teori

Normal menurut maramis (1999)
Normal adalah keadaan sehat (tidak patologis) dalam hal fungsi keseluruhan. Sedangkan Abnormal adalah menyimpang dari yang normal (tidak biasa terjadi).

Normal menurut Kartini Kartono (1989)
Perilaku Normal adalah perilaku yang adekuat (serasi dan tepat) yang dapat diterima oleh masyarakat pada umumnya. Sedangkan Perilaku Pribadi Abnormal adalah sikap hidup yang sesuai dengan pola kelompok masyarakat tempat seseorang berada sehingga tercapai suatu relasi interpersonal dan intersosial yang memuaskan.
Perilaku Abnormal adalah suatu perilaku yang berbeda, tidak mengikuti peraturan yang berlaku, tidak pantas, mengganggu dan tidak dapat dimengerti melalui kriteria yang biasa.

Normal dan abnormal perlu dipertimbangkan dari berbagai aspek dan pendekatan. Profesor Suprapti Sumarno (1976), ada dua pendekatan dalam membuat pedoman tentang normalitas:

1. Pendekatan Kuantitatif

Pendekatan yang didasarkan atas patokan statistik dengan melihat pada sering atau tidaknya sesuatu terjadi dan acapkali berdasarkan perhitungan maupun pikiran awam.
- Misal, perilaku makan sepuluh kali dalam sehari.

2. Pendekatan Kualitatif

Pendekatan yang didasarkan observasi empirik pada tipe-tipe ideal dan sering terikat pada faktor sosial kultural setempat.
- Misal, perilaku menangis berlebihan hingga menjerit-jerit pada mereka yang sedang mengalami kehilangan seseorang di suatu lingkungan budaya.

Kriteria Pribadi Normal (Gunarsa & Gunarsa, 1989 mengutip A.H. Maslow: Mittleman):
1.      Perasaan aman yang adekuat.
2.      Memiliki penilaian diri dan wawasan yang rasional
3.      Memiliki spontanitas dan emosionalitas yang adekuat
4.      Mempunyai kontak realitas yang efisien
5.      Memiliki dorongan dan nafsu jasmani yang sehat serta kemampuan untuk memenuhi dan memuaskannya
6.      Mempunyai pengetahuan diri yang adekuat
7.      Mempunyai tujuan hidup yang adekuat
8.      Mampu belajar dari pengalaman hidupnya
9.      Sanggup untuk memuaskan tuntutan dan kebutuhan kelompok
10.  Emansipasi yang pantas dan sehat dari kelompok maupun kebutuhan
11.  Memiliki integrasi dan konsistensi kepribadian

Kriteria Pribadi Abnormal

1.        Kelangkaan Statistik (Statistical Infrequency)
Tingkah laku abnormal diasumsikan dalam "populasi kurva normal" yang menempatkan mayoritas individu berada di tengah dan sangat sedikit yang berada pada posisi ekstrim. Jadi dengan kata lain, seseorang dapat dianggap normal bila orang tersebut tidak menyimpang jauh dari rata-rata perilaku.

2.    Pelanggaran Norma
Tingkah laku yang menyimpang dari norma sosial dan mengancam atau membuat cemas orang yang mengamatinya.
Misal, Kekerasan psikopat, perilaku liar manik, perilaku aneh skizofrenia.

3.   Penderitaan Pribadi (Discomfort atau Personal Distress)
Suatu perilaku dimana individu secara personal merasa berada dalam situasi penuh tekanan baik stres dari lingkungan maupun kondisi dari dalam dirinya.
Misal, depresi, cemas berat karena takut rasa sakit.

4.   Disabilitas atau Disfungsi (Maladaptif Behaviour)
Ketidakmampuan individu dalam beberapa bidang penting dalam hidup, baik hubungan kerja atau pribadi.
Misal, seseorang yang takut terbang melewatkan kesempatan bekerja di luar negeri.

5.    Tidak Diharapkan (Unexpectedness)
Suatu respon dari perilaku yang tidak diharapkan terhadap stresor lingkungan karena sudah diluar proporsi.
Misal, kecemasan yang sangat dan terus menerus terhadap hartanya, walaupun seseorang tergolong kaya.


Analisis

Vena berusia 25 tahun telah menjalani hubungan perkawinan selama hampir 2 tahun. Vena selalu merasa ketakutan dan kekhawatiran yang mendalam bila bersama suaminya. Hal ini tidak terlalu dirasakannya ketika ia bersama orang lain. Suami subjek merupakan figur suami yang otoriter dan overprotekstif. Subjek selalu merasa disalahkan atas setiap hal yang dilakukannya. Subjek merasa tidak berani memberikan pendapat kepada suaminya. Subjek merasa tidak bahagia dengan kehidupan perkawinannya tersebut dan berniat untuk segera bercerai dengannya tetapi subjek tidak mempunyai keberanian untuk melakukannya.

Pembahasan: 

Dari contoh kasus di atas kita dapat mengidentifikasi bahwa Vena termasuk dalam perilaku abnormal sebab Vena selalu merasa ketakutan dan kekhawatiran yang berlebihan atau mendalam terhadap suaminya, tetapi tidak terlalu dirasakannya dengan orang lain. Dalam hal ini permasalahan yang dihadapi oleh Vena masuk pada kriteria abnormalitas yaitu tekanan batin dan penderitaan pribadi (Discomfort atau Personal Distress) yang telah dipaparkan sebelumnya. 
Subjek merasa tertekan dengan suami yang mempunyai sikap otoriter dan overprotekstif, sehingga membuat subjek tidak berani untuk mengungkapkan pendapatnya, subjek selalu merasa apa yang ia lakukan selalu salah. Hal ini jelas tidak tepat, karena seharusnya subjek harus berani untuk memberikan pendapat terlebih pada suaminya sendiri karena pada dasarnya setiap pendapat yang kita sampaikan tidak ada yang salah. Selain itu, kriteria yang berikutnya yaitu Gejala “salah suami” (maladjusment) yang di sebabkan oleh ketidakefektifan individu dalam menghadapi, menangani atau melaksanakan tuntutan dari lingkungan fisik. Ketidakefektifan individu dalam menghadapi dan menangani suaminya yang mempunyai sikap otoriter dan overprotekstif. Sehingga subjek merasa tidak bahagia dalam kehidupan perkawinannya dan berniat untuk segera bercerai. Dalam hal ini, seharusnya subjek dapat lebih menyesuaikan diri dengan sikap suaminya yang otoriter dan overprotekstif karena sebelum menikah subjek seharusnya dapat melihat atau mengetahui mengenai sikap suaminya walaupun mungkin tidak banyak dan subjek tau apa yang akan dilakukannya setelah menikah dengan sikap suaminya tersebut, sehingga dapat menghadapi ataupun menangani masalah yang terjadi dalam perkawinannya.


Daftar Pustaka

Ardani Ardi Tristiadi, M. Si. Psi. 2011. “Psikologi Abnormal”. Bandung: Lubuk Agung