Bunga Anugrah Gusti
12514246
2PA07
Kesehatan Mental #
Pendahuluan
Dilihat dari setiap segi pandangan. Konsep
normalitas-abnormalitas adalah konsep yang bersifat relatif. Penyimpangan dari
norma apa pun yang diterima seorang mungkin begitu kecil atau mungkin begitu
mencolok sehingga kelihatan jelas sifat abnormalnya. Tetapi karena tidak ada
dikotomi yang tegas, maka normalitas dan abnormalitas sulit dibedakan.
Kebanyakan orang menerima bahwa penyesuaian diri yang baik sangat serupa
dengan normalitas dan ketidakmampuan menyesuaikan diri dengan abnormalitas.
Konsep-konsep ini berhubungan erat, tetapi artinya berbeda.
DEFINISI NORMAL
· Normal diartikan: sebagai keadaan sehat (tidak patologis)
dalam fungsi keseluruhan (Maramis, 1999)
· Perilaku normal adalah : perilaku
yang adekuat yaitu serasi & tetap yang dapat diterima oleh masyarakat pada
umumnya. (Kartini Kartono, 1999)
· Perilaku pribadi normal : sikap hidup yang sesuai dengan
pola kelompok masyarakat tempat ia ada sehingga tercapai relasi interpersonal
& intersosial yg memuaskan (kk '89)
Kriteria Pribadi Normal:
Menurut (Gunarsa & Gunarsa,
1989) menutip pendapat A.H. Maslow:
-
Perasaan aman yg adekuat
-
Memiliki penilaian diri &
wawasan yg rasional
-
Memiliki spontanitas &
emosionalitas yang adekuat
-
Mempunyai kontak dengan realitas
secara efisien
- Memiliki dorongan & nafsu
jasmani yang sehat serta kemampuan untuk memenuhi dan memuaskan.
-
Mempunyai pengetahuan diri yg
adekuat
-
Mempunyai tujuan hidup yang adekuat
-
Mampu belajar dari kemampuan
hidupnya
-
Sanggup untuk memuaskan tuntutan
& kebutuhan kelompok
-
Emansipasi yang pantas & sehat
dari kelempok maupun kebudayaan
-
Memiliki integritas & konsisten
kepribadian
Ada 2 pendekatan untuk pedoman
tentang normalitas (prof. Suprapti Sumarmo 1976):
Pendekatan kuantitatif => berdasarkan
patokan statistik, dengan melihat pada sering atau tidak terjadi berdasarkan
perhitungan awam.
Contoh : perilaku makan 8 s.d 10
kali sehari
Pendekatan kualitatif =>
berdasarkan observasi empirik pada tipe-tipe ideal & sering terikat pada
faktor sosial setempat.
Contoh : Perilaku menangis
berlebihan hingga menjerit-jerit pada mereka yang sedang mengalami kematian
disuatu lingkungan budaya.
DEFINISI ABNORMAL
· Abnormal adalah : perilaku yang menyimpang dari yang normal
(tidak biasa terjadi)
· Perilaku Abnormal : perilaku yang tidak dapat diterima umum.
· Kriteria Pribadi Abnormal : Kelangkaan statistical
(statistical Infrequency)
Tingkah laku abnormal diasumsikan
dlm "populasi kurva normal" yg menempatkan mayoritas individu berada
ditengah & sangat sedikit yang berada pada posisi ekstrim. Jadi, seseorang
dianggap normal bila orang tersebut tidak menyimpang jauh dari rata-rata atau perilaku
tsb.
- Pelanggaran Norma (Volition of Norm)
Tingkah laku yang menyimpang dari norma sosial & mengancam atau membuat
cemas orang yang mengamatinya. Misalnya: kekerasan, psikopat, schizofrenia
- Penderita Pribadi (Discomfort/personal Distress)
Suatu perilaku dmn individu secara personal merasa berada dlm situasi penuh
tekanan baik stress dari lingkungan maupun kondisi dari dlm dirinya.
Misalnya : depresi, cemas yang berat (rasa sakit ketika melahirkan)
- Disabilitan/Disfungsi (Mal Adaptive Behavior)
Ketidakmampuan individu dalam beberapa bidang penting dalam hidup baik hubungan
kerja/pribadi. Contoh: penderita narkoba mengalami gangguan dlm
pekerjaan/pribadi
- Tidak diharapkan (Unexpectedness)
Suatu respon dari perilaku yg tidak diharapkan terhadap stresor lingkungan
karena sudah diluar proporsi. Contoh: Kecemasan yang sangat & terus menerus
terhadap hartanya walaupun tergolong kaya.
Lebih lanjut W.B. Maher & Maher
(1985), menjelaskan kategori tingkah laku yang abnormal yaitu:
- Tingkah lakunya berbahaya terhadap diri sendiri maupun orang
lain
- Kontak realitas yg buruk
- Reaksi emosional yg tidak sesuai terhadap situasi
- Tingkah laku tidak menentu (aneh)/beralih tanpa dapat
diramalkan
DEFINISI PSIKOLOGI ABNORMAL
Sehingga Psi. Abnormal adalah:
Suatu ilmu yang mempelajari
sifat-sifat & perkembangan gangguan jiwa mempelajari mengapa orang
berperilaku, berpikir dan merasa dalam cara yang tidak diharapkan mencegah,
mengurangi dan menyembuhkan.
ETIOLOGI
o Primer
(Primary Causes): Kondisi yg harus ada seandainya gangguan itu terjadi.
Penyebab: biasanya hal yang mutlak tapi tidak selalu mencukupi untuk melahirkan perilaku abnormal. Justru banyak gangguan perilaku yang lahir bukan karena penyebab utama.
Penyebab: biasanya hal yang mutlak tapi tidak selalu mencukupi untuk melahirkan perilaku abnormal. Justru banyak gangguan perilaku yang lahir bukan karena penyebab utama.
o Predisposisi:
Penyebab yang sifatnya kecenderungan yaitu kondisi yang datang sebelum terjadi
gangguan pada kondisi tertentu. Contoh: keterikatan pada ibu.
o Aktual
(precipitating causes): Kondisi yang secara langsung memberi efek pada
terjadinya gangguan dan bertindak sebagai pemicu
o Penguat
(Reinforcing causes): Kondisi yang cenderung memelihara perilaku hal adaptif
yang telah/sedang terjadi. Contoh: Over protektif.
DEFINISI PARADIGMA
Paradigma : sekumpulan asumsi dasar
yg bersama-sama memberi definisi/menetapkan bagaimana caranya memberi konsep,
mengumpulkan & menginterprestasikan data, memikirkan tentang fakta / pokok
persoalan khusus.
Aliran dalam paradigma, yaitu:
ü P.
Biologis
Proses tubuh yang menyimpang, sebagai memusatkan pada faktorgenetis &
biokimia. Paradigma ini berhubungan dengan gangguan menyimpang: patologis,
diklasifikasikan berdasarkan simptom. Klasifikasi disebut diagnosis, sedangkan
proses yg dirancang untuk mengubah PL : terapi. Genetika perilaku : studi
tentang perbedaan individu dalam PL yang sebagian disebabkan oleh perbedaan
genetik.
ü P.
Psikoanalisa
Memusatkan perhatian pada depresi & proses tidak sadar, dmn paradigma
menyelidiki kehidupan awal serta proses tidak sadar pada pasien sbg penyebab
abnormal. Dengan kata lain gangguan akibat insting Id yang kuat yang
mengatur/menentukan terhadap perkembangan konflik yang tidak disadari terkait
terhadap psikoseksual tertentu.
ü P. Behavioris
(belajar)
Dilihat sebagai adapsi yang tidak efektif (menyimpang) sebagai hasil belajar
mal adaptif/salah dalam mempelajari sesuatu yang baik tapi berhasil dalam
belajar yang tidak baik.
ü P.
Kognitif
Bagaimana orang memusatkan perhatian, menyusun pengalaman, bagaimana pengertian
terhadap hal yg ditangkap & mengubah stimulus lingkungan ke dalam informasi
yg berguna sehingga interprestasi irasional merupakan faktor utama dalam
abnormalitas.
ü P.
Diathesis Stress
Hasil interaksi antara suatu predisposisi kearah penyakit tertentu (diathesis)
dengan stress dari lingkungan. Contoh: individu akan ke Jakarta, tetapi sudah
terbayang situasi Jakarta yg tidak menyenangkan sehingga muncul rasa mual atau
tidak enak padahal belum terjadi.
Ø Beberapa ciri orang
yang sehat-Normal:
Aspek
Penyesuaian Diri
|
Ciri
Perilaku
|
Sikap terhadap diri sendiri
|
Menunjukan penerimaan diri;
memiliki jati diri yang memadai (positif); memiliki penilaian yang realistik
terhadap berbagai kelebihan dan kekurangan.
|
Persepsi terhadap realitas
|
Memiliki pandangan yang realistis
terhadap diri sendiri dan terhadap dunia orang maupun benda di sekelilingnya.
|
Integrasi
|
Bekepribadian utuh, bebas drai
konflik-konflik batin yang melumpuhkan, memiliki toleransi yang baik terhadap
stress.
|
Kompetensi
|
Memiliki kompetensi-kompetensi
fisik, intelektual, emosional, dan sosial yang memadai untuk mengatasi
berbagai problema hidup.
|
Otonomi
|
Memiliki kemandirian, tanggung
jawab dan penentuan diri (self-determination, self direction) yang memadai
disertai kemempuan cukup untuk membebaskan diri dari aneka pengaruh sosial.
|
Pertumbuhan aktualisasi diri
|
Menunjukan kecenderungan ke arah
menjadi semakin matang, kemampuannya, dan mencapai pemenuhan diri sebagai
pribadi.
|
Ø Beberapa
kriteria abnormalitas yaitu:
o Penyimpangan
dari norma-norma statistik
Abnormal merupakan sesuatu yang tidak lazim, atau secara harafiah yang
menyimpang dari norma. Hal ini disebabkan karena hampir setiap kepribadian
dapat kita gambarkan seperti sebuah kurva normal dimana terdapat dua arah yaitu
kanan yang berarti positif dan kiri yang berarti negatif. Sebagai contoh,
seperti sifat agresif dimana semakin jauh dari nilai rata-rata baik arah kiri
maupun kanan, kita dapat menemukan agresifitas yang ekstreem (rendah atau
tinggi), yang keduanya mempunyai motivasi negatif. Namun kriteria ini tidak
cocok atau tidak sesuai untuk kepribadian lain seperti intelegensi sebab
kendati sama-sama abnormal namun sifat genius jelas mempunyai nilai positif.
Sedangkan sifat idiot mempunyai nilai negatif.
o Penyimpangan
dari norma sosial
Menurut kriteria ini, sifat tidak patuh atau tidak sejalan dengan norma sosial.
Dimana apa saja yang umum atau lazim adalah sesuatu yang normal. Terkadang di
masyarakat terdapat suatu patokan yang pengandaiannya masih di ragukan kebenarannya.
Pengandaian tersebut adalah apa yang dilakukan oleh mayoritas atau sebagian
besar masyarakat maka hal itu selalu dikatakan baik dan benar.
o Gejala
“salah suai” (maladjusment)
Abnormalitas di pandang sebagai ketidakefektifan individu dalam menghadapi
menanggapi, menangani atau melaksanakan tuntutan dari lingkungan fisik dan
sosial. Hal semacam ini jelas bersifat negatif, yang berarti tidak
memperhitungkan bahwa individu dapat berpenyesuaian baik (well adjusted) tanpa
memanfaatkan atau mengembangkan kemampuannya. Tidak sedikit orang yang di
bilang “berhasil” dalam menjalani hidup, namun sebagai pribadi tidak berkembang
secara maksimal.
o Tekanan
batin
Abnormalitas dipandang sebagai perasaan-perasaan cemas, depresi atau sedih,
atau perasaan bersalah yang mendalam. Namun ini bukan merupakan patokan yang
baik untuk membedakan perilaku normal dari yang abnormal. Jika tekanan batin
yang dirasakannya tak berkesudahan, mungkin merupakan indikasi bahwa ada
sesuatu yang tidak beres. Tetapi bila ada seseorang merasa sedih karena terkena
musibah, kekecewaan itu normal. Dan bila ada seseorang yang merasa gembira
setelah ditinggal oleh orang yang disayangi, maka seseorang tersebut ddapat
dikatan aneh sebab ia bersikap tidak wajar.
o Ketidakmatangan
Seseorang dapat dikatakan abnormal bila perilakunya tidak sesuai dengan tingkat
usianya. Namun terkadang kita sering sulit untuk menemukan patokan tentang
kemetangan itu sendiri.
Teori
Normal menurut maramis (1999)
Normal adalah keadaan sehat (tidak
patologis) dalam hal fungsi keseluruhan. Sedangkan Abnormal adalah
menyimpang dari yang normal (tidak biasa terjadi).
Normal menurut Kartini Kartono (1989)
Normal menurut Kartini Kartono (1989)
Perilaku Normal adalah perilaku yang adekuat (serasi
dan tepat) yang dapat diterima oleh masyarakat pada umumnya. Sedangkan Perilaku Pribadi Abnormal adalah sikap hidup yang sesuai dengan pola kelompok
masyarakat tempat seseorang berada sehingga tercapai suatu relasi interpersonal
dan intersosial yang memuaskan.
Perilaku
Abnormal adalah suatu perilaku yang berbeda, tidak mengikuti peraturan
yang berlaku, tidak pantas, mengganggu dan tidak dapat dimengerti melalui
kriteria yang biasa.
Normal dan abnormal perlu dipertimbangkan dari berbagai aspek dan pendekatan. Profesor Suprapti Sumarno (1976), ada dua pendekatan dalam membuat pedoman tentang normalitas:
1. Pendekatan Kuantitatif
Normal dan abnormal perlu dipertimbangkan dari berbagai aspek dan pendekatan. Profesor Suprapti Sumarno (1976), ada dua pendekatan dalam membuat pedoman tentang normalitas:
1. Pendekatan Kuantitatif
Pendekatan yang
didasarkan atas patokan statistik dengan melihat pada sering atau tidaknya
sesuatu terjadi dan acapkali berdasarkan perhitungan maupun pikiran awam.
- Misal, perilaku makan sepuluh kali dalam sehari.
- Misal, perilaku makan sepuluh kali dalam sehari.
2. Pendekatan Kualitatif
Pendekatan yang
didasarkan observasi empirik pada tipe-tipe ideal dan sering terikat pada
faktor sosial kultural setempat.
- Misal,
perilaku menangis berlebihan hingga menjerit-jerit pada mereka yang sedang
mengalami kehilangan seseorang di suatu lingkungan budaya.
Kriteria
Pribadi Normal (Gunarsa & Gunarsa, 1989 mengutip A.H. Maslow: Mittleman):
1. Perasaan
aman yang adekuat.
2. Memiliki
penilaian diri dan wawasan yang rasional
3. Memiliki
spontanitas dan emosionalitas yang adekuat
4. Mempunyai
kontak realitas yang efisien
5. Memiliki
dorongan dan nafsu jasmani yang sehat serta kemampuan untuk memenuhi dan
memuaskannya
6. Mempunyai
pengetahuan diri yang adekuat
7. Mempunyai
tujuan hidup yang adekuat
8. Mampu
belajar dari pengalaman hidupnya
9. Sanggup
untuk memuaskan tuntutan dan kebutuhan kelompok
10. Emansipasi yang
pantas dan sehat dari kelompok maupun kebutuhan
11. Memiliki integrasi
dan konsistensi kepribadian
Kriteria Pribadi Abnormal
1. Kelangkaan
Statistik (Statistical Infrequency)
Tingkah
laku abnormal diasumsikan dalam "populasi kurva normal" yang
menempatkan mayoritas individu berada di tengah dan sangat sedikit yang berada
pada posisi ekstrim. Jadi dengan kata lain, seseorang dapat dianggap normal
bila orang tersebut tidak menyimpang jauh dari rata-rata perilaku.
2. Pelanggaran Norma
Tingkah
laku yang menyimpang dari norma sosial dan mengancam atau membuat cemas orang
yang mengamatinya.
Misal,
Kekerasan psikopat, perilaku liar manik, perilaku aneh skizofrenia.
3. Penderitaan Pribadi (Discomfort atau Personal Distress)
Suatu
perilaku dimana individu secara personal merasa berada dalam situasi penuh
tekanan baik stres dari lingkungan maupun kondisi dari dalam dirinya.
Misal, depresi, cemas berat karena takut rasa sakit.
Misal, depresi, cemas berat karena takut rasa sakit.
4. Disabilitas atau Disfungsi (Maladaptif Behaviour)
Ketidakmampuan
individu dalam beberapa bidang penting dalam hidup, baik hubungan kerja atau
pribadi.
Misal,
seseorang yang takut terbang melewatkan kesempatan bekerja di luar negeri.
5. Tidak Diharapkan (Unexpectedness)
5. Tidak Diharapkan (Unexpectedness)
Suatu
respon dari perilaku yang tidak diharapkan terhadap stresor lingkungan karena
sudah diluar proporsi.
Misal,
kecemasan yang sangat dan terus menerus terhadap hartanya, walaupun seseorang
tergolong kaya.
Analisis
Vena berusia 25 tahun telah
menjalani hubungan perkawinan selama hampir 2 tahun. Vena selalu merasa
ketakutan dan kekhawatiran yang mendalam bila bersama suaminya. Hal ini tidak
terlalu dirasakannya ketika ia bersama orang lain. Suami subjek merupakan figur
suami yang otoriter dan overprotekstif. Subjek selalu merasa disalahkan atas
setiap hal yang dilakukannya. Subjek merasa tidak berani memberikan pendapat
kepada suaminya. Subjek merasa tidak bahagia dengan kehidupan perkawinannya
tersebut dan berniat untuk segera bercerai dengannya tetapi subjek tidak
mempunyai keberanian untuk melakukannya.
Pembahasan:
Dari contoh kasus di atas kita dapat mengidentifikasi bahwa Vena termasuk dalam perilaku abnormal sebab Vena selalu merasa ketakutan dan kekhawatiran yang berlebihan atau mendalam terhadap suaminya, tetapi tidak terlalu dirasakannya dengan orang lain. Dalam hal ini permasalahan yang dihadapi oleh Vena masuk pada kriteria abnormalitas yaitu tekanan batin dan penderitaan pribadi (Discomfort atau Personal Distress) yang telah dipaparkan sebelumnya.
Subjek merasa tertekan dengan suami yang mempunyai sikap otoriter
dan overprotekstif, sehingga membuat subjek tidak berani untuk mengungkapkan
pendapatnya, subjek selalu merasa apa yang ia lakukan selalu salah. Hal ini jelas
tidak tepat, karena seharusnya subjek harus berani untuk memberikan pendapat
terlebih pada suaminya sendiri karena pada dasarnya setiap pendapat yang kita
sampaikan tidak ada yang salah. Selain itu, kriteria yang berikutnya yaitu
Gejala “salah suami” (maladjusment) yang di sebabkan oleh ketidakefektifan
individu dalam menghadapi, menangani atau melaksanakan tuntutan dari lingkungan
fisik. Ketidakefektifan individu dalam menghadapi dan menangani suaminya yang
mempunyai sikap otoriter dan overprotekstif. Sehingga subjek merasa tidak
bahagia dalam kehidupan perkawinannya dan berniat untuk segera bercerai. Dalam
hal ini, seharusnya subjek dapat lebih menyesuaikan diri dengan sikap suaminya
yang otoriter dan overprotekstif karena sebelum menikah subjek seharusnya dapat
melihat atau mengetahui mengenai sikap suaminya walaupun mungkin tidak banyak
dan subjek tau apa yang akan dilakukannya setelah menikah dengan sikap suaminya
tersebut, sehingga dapat menghadapi ataupun menangani masalah yang terjadi
dalam perkawinannya.
Daftar Pustaka
Ardani Ardi Tristiadi,
M. Si. Psi. 2011. “Psikologi Abnormal”. Bandung: Lubuk Agung