A. Pengertian
CSCW
Istilah Computer Supported
Cooperative Work (CSCW) pertama kali digunakan oleh Irene Greif dan Paul M.
Cashman pada tahun 1984 pada sebuah workshop yang dihadiri oleh mereka yang
tertarik dalam menggunakan teknologi untuk memudahkan pekerjaan mereka. Pada kesempatan
yang sama pada tahun 1987 Dr. Charles Findley mempresentasikan
konsep collaborative learning work.
Menurut CSCW mengangkat isu
seputar bagaimana aktivitas-aktivitas kolaboratif dan koordinasi didalamnya
dapat didukung teknologi komputer. Beberapa orang menyamakan CSCW
dengan groupware namun yang lain mengatakan bahwa groupware merujuk
kepada wujud nyata dari sistem berbasis komputer, sedangkan CSCW berfokus pada
studi mengenai kakas dan teknik dari groupware itu sendiri, termasuk didalamnya
efek yang timbul baik secara psikologi maupun sosial.
CSCW adalah sebuah istilah
generik, yang menggabungkan pemahaman cara orang bekerja dalam kelompok dengan
teknologi yang memungkinkan jaringan komputer, dan terkait perangkat keras,
perangkat lunak, layanan dan teknik. CSCW menyebarluaskan hasil penelitan yang
inovatif dan memberikan sebuah forum interdisipliner untuk perdebatan dan
pertukaran gagasan tentang teori, masalah - masalan praktis, teknis dan sosial
di CSCW. Hasil CSCW biasanya disebut Groupware. Groupware adalah jenis software
yang membantu kelompok kerja (workgroup) yang terhubung ke jaringan untuk
mengelola aktivitas mereka. Salah satu contoh sistem CSCW ini adalah electronic
mail (email). Email merupakan sistem CSCW yang bersifat asynchronous yang
tidak mengharuskan user bekerja pada waktu yang bersamaan. Penerima mail tidak
harus membuka suratnya pada waktu yang sama dengan terkirimnya surat.
Sebaliknya sistem CSCW synchronousmembutuhkan partisipasi simultan dari
para usernya. Perbedaan utama antara sistem CSCW dengan sistem interaksi
individual adalah tidak dapat diabaikannya aspek sosial kelompok dari user yang
tergabung. Sistem CSCW dibangun untuk memungkinkan interaksi antara user
melalui komputer sehingga kebutuhan sekian banyak user tersebut harus terpenuhi
dalam satu produk. Computer Supported Cooperative Work (CSCW) pertama kali
digunakan oleh Irene Greif dan Paul M. Cashman pada tahun 1984, pada sebuah
workshop yang dihadiri oleh mereka yang tertarik dalam menggunakan teknologi
untuk memudahkan pekerjaan mereka.
Mungkin salah satu
contohnya penerapan CSCW pada bidang pendidikan yaitu dimana para siswa
melakukan kelas virtual dan saat itu sedang mengerjakan ulangan harian dimana
para siswanya saat melakukannya tidak benar-benar berada di kelas tetapi bisa
dimana saja yang memungkinkan siswa tersebut untuk bisa terhubung pada suatu
jaringan. Contoh lainnya yaitu fasilitas chating dimana seseorang bisa
berdiskusi melalui antarmuka teks tanpa harus bertatap muka secara
langsung.
Tujuan CSCW, yaitu :
1) Mempelajari
bagaimana orang bekerja sama sebagai kelompok dan apa yang mempengaruhi teknologi
2) Mendukung
proses pelaksanaan pekerjaan walaupun secara geografis dipisahkan
Contoh yang digunakan pada
CSCW adalah
1) Kaloborasi
para Ilmuwan yang bekerja sama pada suatu proyek
2) Pengarang
mengedit suatu dokumen bersama-sama
3) Programmer
suatu sistem secara bersamaan
4) Bekerja
sama sebagai sharing atas suatu video bersama yang conferencing aplikasi
5) Para
pembeli dan para penjual melakukan transaksi secara eBay
B. Komunikasi
face-to-face
a. Bentuk
komunikasi yang primitif (dalam hubungannya dengan teknologi)
b. Mekanisme
komunikasi yang sangat kompleks
c. Tidak
hanya meliputi bicara dan pendengaran, tapi juga menggunakan bahasa tubuh dan
tatapan mata
Beberapa fenomena yang
mempengaruhi penggunaan computer-mediated communication:
1. Personal
space
Dalam komunikasi
face-to-face, setiap orang cenderung mempertahankan jarak tertentu dengan lawan
bicaranya. Konsep personal space berbeda untuk setiap negara/budaya. Masalah
personal space dapat timbul apabila percakapan dilakukan melalui video links.
2. Kontak
dan tatapan mata
Dalam berkomunikasi, kontak
mata memberikan beberapa petunjuk, a.l. perasaan tertarik/bosan,
otoritas/power, kehadiran sosial, dll. Video-tunnel memungkinkan kontak mata
bahkan seluruh ekspresi wajah.
3. Gerak
isyarat dan bahasa tubuh
a. Dalam
berkomunikasi, kita menggunakan tangan (gerak isyarat) untuk menunjuk sesuatu.
b. Beberapa
groupware system mencoba mengatasi hal tersebut dengan menggunakan group pointer.
c. Banyak
computer-supported meeting room menempatkan monitor pada meja sehingga para
peserta dapat saling melihat dengan jelas.
4. Back
channel
a. Response
dari pendengar berupa gerakan tubuh disebutback channel.
b. Dengan
adanya back channel, pembicara merasa bahwa pendengar cukup memahami
pembicaraan.
c. Beberapa
masalah berkaitan dengan back channel yang mungkin timbul dalam komunikasi
video, a.l.:
1) Komunikasi
video cenderung banyak menyoroti kepala dan bahu, sehingga kehilangan beberapa
gerak tubuh dan isyarat.
2) Layar
yang besar cenderung mengurangi detail sehingga mungkin kehilangan beberapa
informasi.
d. Audio
links (mis. telepon) hanya memiliki verbal back channel.
e. Komunikasi
berbasis teks biasanya tidak memiliki back channel.
5. Turn-taking
a. Turn-taking
adalah proses dimana peran dari pembicara dan pendengar ditukar.
b. Dalam
proses turn-taking, back channel biasanya merupakan bagian yang penting.
c. Terjadinya
proses turn-taking, a.l. karena:
1) Pembicara
menawarkan kesempatan kepada pendengar secara eksplisit, mis. mengajukan
pertanyaan.
2) Pembicara
memberikan gap singkat dalam pembicaraan.
d. Bentuk
pemberian gap dari pembicara terutama berhubungan dengan audio channel.
e. Masalah
yang cukup serius dalam kaitan dengan pemberian gap timbul dalam komunikasi
jarak jauh (komunikasi berbasis satelit) karena kelambatan waktu. Akan terjadi
gap sekitar 4 detik.
C. Percakapan
Tiga fungsi teori
percakapan dalam CSCW:
a. digunakan
untuk menganalisa catatan (transkrip), mis. konferensi elektronik. Ini akan
membantu memahami seberapa baik partisipan menyalin dengan komunikasi
elektronik.
b. digunakan
sebagai petunjuk untuk keputusan desain. Pemahaman percakapan normal antar
manusia menghindari kesalahan besar dalam perancangan media elektronik.
c. dapat
digunakan untuk mengarahkan desain, menstrukturkan sistem dengan teori.
1. Struktur
percakapan dasar
Pada tingkat yang lebih
tinggi, struktur percakapan dapat dilihat sebagai urutan giliran, biasanya pergantian
di antara partisipan.
2. Kontek
Setiap ucapan dan fragmen
dari percakapan sangat tergantung pada konteks yang digunakan untuk
menghilangkan ambiguitas dari ucapan. Ada 2 tipe konteks dalam percakapan:
1. konteks
internal, tergantung pada ucapan sebelumnya.
2. konteks
eksternal, tergantung pada lingkungan.
3. Breakdown
Breakdown dalam komunikasi
terjadi apabila terdapat perbedaan fokus dari pembicara dan pendengar.
Breakdown ini dapat diperbaiki dengan pertanyaan atau ucapan dari
pembicara/pendengar yang dapat menimbulkan fokus dialog yang sama.
4. Speech
act theory
Merupakan suatu analisis
yang detail dari struktur percakapan, biasanya digunakan untuk memberikan
petunjuk dalam perancangan Coordinator, yaitu sistem email terstruktur yang
komersial.
D. Komunikasi
Berbasis Teks
1. Dalam groupware yang
asynchronous (dan beberapa sistem synchronous), bentuk komunikasi langsung yang
dominan adalah berbasis teks.
2. Komunikasi berbasis teks
dalam sistem groupware seperti tiruan dari percakapan, sehingga terdapat
beberapa masalah dalam mengadaptasi antara 2 media.
Ada 4 tipe komunikasi
tekstual dalam groupware:
a. discrete; pesan langsung
seperti dalam email
b. linear; pesan partisipan
ditambahkan pada akhir dari catatan tunggal
c. non-linear; saat pesan
dihubungkan ke yang lainnya dalam model hypertext
d. spatial; dimana
pesan diatur dalam permukaan dua dimensi
Beberapa masalah yang
timbul dalam komunikasi berbasis teks:
a. Back
channel, Kehilangan back channel dan nada suara serta bahasa tubuh
pembicara.
b. Grounding constraint
Adalah sifat dari channel
dimana para pembicara berkomunikasi, meliputi:
1) cotemporality;
ucapan didengar segera setelah diucapkan
2) simultaneity;
partisipan dapat mengirim dan menerima pada waktu yang bersamaan
3) sequence;
ucapan-ucapan diurutkan
Dalam sistem berbasis teks,
partisipan yang berbeda dapat menyusun simultaneously, tapi kurang
cotemporality.
c. Turn
taking, Tidak adanya back channel menimbulkan kesulitan bagi pendengar
untuk menginterupsi percakapan (turn-taking).
d. Konteks, Hilangnya
back channel dan kemungkinan giliran yang overlapping, menyebabkan sulitnya
menentukan konteks dari ungkapan tekstual.
e. Hypertext, Berkurangnya
langkah dari percakapan berbasis teks berarti bahwa partisipan dipaksa untuk meningkatkan
granulity pesan. Ini dapat diatasi dengan pesan multiplexing.
E. Kelompok
Perilaku kelompok lebih
kompleks terutama apabila kita memperhatikan hubungan sosial yang dinamis
selama bekerja dalam kelompok.
1. Dinamika
kelompok
a. Peran
dan hubungan di dalam kelompok dapat berubah secara dramatis dalam suatu kurun
waktu saat melaksanakan suatu pekerjaan.
b. Nama
peran seseorang dapat menimbulkan masalah, mis. seorang disebut penulis buku
tapi sebenarnya ia hanya memberikan ide dan komentar tapi tidak menulis satu
kata pun.
c. Anggota
dan struktur kelompok juga dapat berubah setiap saat. Dengan keluar atau
masuknya anggota dalam kelompok dapat mengubah perilaku kelompok.
d. Anggota
kelompok yang baru memiliki masalah khusus dalam beradaptasi dengan budaya
kelompok.
e. Sistem
groupware dapat membantu dengan cara mencatat sejarah dari kelompok.
f. Perancang
groupware harus menyadari bahwa anggota baru dapat masuk dalam kelompok dan
mendesain software sesuai dengan kelompok.
g. Kelompok
dapat dibagi dalam beberapa sub-kelompok yang bekerja secara mandiri dan
kemudian membagikan hasilnya kepada sub-kelompok lainnya.
2. Layout
Fisik
a. Orientasi
peralatan komputer dapat mempengaruhi kerja kelompok.
b. Semua
partisipan harus bisa saling melihat satu sama lain.
c. Pada
ruangan pertemuan elektronik:
· Manajer
tidak harus duduk di depan karena layar yang di depan dapat dikontrol dari
semua terminal
· lebih
baik duduk di belakang sehingga mereka bisa mengamati para peserta tanpa harus
melepaskan pandangan dari layar
3. Kognisi
Terdistribusi
a. Berpikir
tidak hanya terjadi di dalam kepala, tetapi juga dalam hubungan eksternal
dengan benda-benda di dunia dan dengan orang lain. Pandangan ini disebut
kognisi terdistribusi.
b. Kognisi
terdistribusi memiliki pengaruh besar pada cara melihat kerja kelompok bahkan
kerja individual.
c. Dalam
hal ini perlu adanya mediating representation, yang merupakan alat
komunikasi antara kelompok dan perwujudan nyata dari pengetahuan kelompok serta
membentuk pengetahuan kelompok yang baru.
d. Dalam
perancangan groupware yang efektif, desainer perlu memusatkan analisisnya pada
situasi kelompok saat itu dan merancang groupware pada representasi eksternal
yang dapat digunakan oleh seluruh partisipan.
4. Studi
Eksperimental
Kompleksitas dari
komunikasi manusia-manusia dan kerja kelompok membuat studi eksperimental dari
kelompok dan groupware menjadi lebih sulit dibandingkan dengan eksperimen
single-user. Misalkan kita akan mengevaluasi aplikasi yang digunakan
bersama-sama dengan koneksi video antar partisipan. Kesulitan-kesulitan yang
mungkin timbul adalah:
a. Membutuhkan
subyek yang lebih banyak dan waktu yang lebih lama dibandingkan eksperimen
terhadap sistem single-user.
b. Sulit
memilih tugas yang tepat, karena tipe tugasnya yang akan dites sangat
bervariasi.
c. Pengumpulan
datanya membutuhkan perlengkapan video dan log yang banyak, yang mungkin
tersebar di beberapa tempat.
d. Pada
tahap analisis, perbedaan statistikal sangat ekstrim.
5. Studi
Lapangan
a. Banyak
pendapat yang mengatakan bahwa kerja kelompok hanya dapat dipelajari dalam
situasi kerja yang sebenarnya.
b. Sesuai
dengan ide kognisi terdistribusi, tindakan nyata adalah tindakan berdasarkan
situasi, tergantung pada interaksi dengan benda dan manusia pada tempat kerja.
c. Pendekatan
yang paling sesuai dengan CSCW adalahethnography, yaitu didasarkan pada
pencatatan yang detail tentang interaksi antara manusia dan interaksi antara
manusia dengan lingkungannya.
F. Faktor-faktor
Organisasi
Faktor organisasi cukup
berpengaruh terhadap dukungan dan relevansi dari sistem groupware pada
khususnya, dan teknologi informasi pada umumnya.
Beberapa faktor organisasi
yang berpengaruh adalah :
1. Siapa
yang mendapatkan keuntungan?
a. Sering
terjadi ketidakseimbangan antara mereka yang mendapatkan keuntungan dengan
mereka yang melaksanakan pekerjaan.
b. Dalam
sistem groupware, seharusnya ada tingkat simetri, yaitu apabila seseorang harus
bekerja untuk sistem, ia harus memperoleh keuntungan dari sistem tersebut.
2. Masalah
free-rider
Sumbangan dari setiap
partisipan tidak sama, ada yang hanya memberikan sumbangan yang sedikit
(free-rider), dan mereka mengambil keuntungan dari kerja anggota kelompok yang
lain.
3. Critical
mass
a. Dalam
kaitan dengan biaya/keuntungan, semakin sedikit pemakai semakin kecil
keuntungan dibanding biaya.
b. Setiap
sistem groupware yang baru harus dirancang agar memiliki keuntungan yang lebih
besar daripada biaya meskipun pemakainya sedikit.
4. Kerja
sama atau konflik?
a. Orang-orang
dalam organisasi atau kelompok sering memiliki tujuan yang konflik dan
pertemuan merupakan salah satu jalan untuk menyelesaikan konflik tersebut.
b.Yang
perlu diperhatikan sebelum menginstal sistem komputer adalah mengidentifikasikan takeholder yang akan terpengaruh oleh sistem tersebut.
5. Mengubah
struktur kekuasaan
a. Garis
kekuasaan dan informasi dalam suatu organisasi cenderung mengalir ke atas dan
ke bawah melalui manajemen garis.
b. Media
komunikasi yang baru mungkin mengacaukan struktur manajerial yang formal, mis.
sistem email.
c. Teknologi
sebisa mungkin sesuai dengan struktur organisasi dan sosial yang ada.
6. Pekerja
yang tidak kelihatan
Kemajuan dalam
telekomunikasi memungkinkan adanya tele-working dari rumah sehingga membuat
pekerja jarang terlihat oleh manajemen.
7. Mengevaluasi keuntungan
a. Keuntungan
dari groupware, terutama email atau electronic conferencing, berhubungan dengan
kepuasan kerja atau aliran informasi.
b. Video-wall
diharapkan membantu kontak sosial di dalam organisasi.
c. Meskipun
sistem groupware dinilai bermanfaat, tapi sulit untuk mengukur keuntungannya
karena menyebar di seluruh organisasi.
DAFTAR PUSTAKA
· Wilson,
P. (1991). Computer Supported Cooperative Work: An Introduction.
Kluwer Academic Pub.
Kinerja Team
NPM
NAMA
JOBDESK
LINK
10514263
Adinda Fajarnindyah
Editor
11514407
Annisa Windra Septiva
Typing
12514246
Bunga Anugrah Gusti
Typing
15514785
Kartika Iasyah
Typing
17514749
Nadira Raycha
Searching
18514141
Nur Andyni
Searching
A. Pengertian
CSCW
Istilah Computer Supported
Cooperative Work (CSCW) pertama kali digunakan oleh Irene Greif dan Paul M.
Cashman pada tahun 1984 pada sebuah workshop yang dihadiri oleh mereka yang
tertarik dalam menggunakan teknologi untuk memudahkan pekerjaan mereka. Pada kesempatan
yang sama pada tahun 1987 Dr. Charles Findley mempresentasikan
konsep collaborative learning work.
Menurut CSCW mengangkat isu
seputar bagaimana aktivitas-aktivitas kolaboratif dan koordinasi didalamnya
dapat didukung teknologi komputer. Beberapa orang menyamakan CSCW
dengan groupware namun yang lain mengatakan bahwa groupware merujuk
kepada wujud nyata dari sistem berbasis komputer, sedangkan CSCW berfokus pada
studi mengenai kakas dan teknik dari groupware itu sendiri, termasuk didalamnya
efek yang timbul baik secara psikologi maupun sosial.
CSCW adalah sebuah istilah
generik, yang menggabungkan pemahaman cara orang bekerja dalam kelompok dengan
teknologi yang memungkinkan jaringan komputer, dan terkait perangkat keras,
perangkat lunak, layanan dan teknik. CSCW menyebarluaskan hasil penelitan yang
inovatif dan memberikan sebuah forum interdisipliner untuk perdebatan dan
pertukaran gagasan tentang teori, masalah - masalan praktis, teknis dan sosial
di CSCW. Hasil CSCW biasanya disebut Groupware. Groupware adalah jenis software
yang membantu kelompok kerja (workgroup) yang terhubung ke jaringan untuk
mengelola aktivitas mereka. Salah satu contoh sistem CSCW ini adalah electronic
mail (email). Email merupakan sistem CSCW yang bersifat asynchronous yang
tidak mengharuskan user bekerja pada waktu yang bersamaan. Penerima mail tidak
harus membuka suratnya pada waktu yang sama dengan terkirimnya surat.
Sebaliknya sistem CSCW synchronousmembutuhkan partisipasi simultan dari
para usernya. Perbedaan utama antara sistem CSCW dengan sistem interaksi
individual adalah tidak dapat diabaikannya aspek sosial kelompok dari user yang
tergabung. Sistem CSCW dibangun untuk memungkinkan interaksi antara user
melalui komputer sehingga kebutuhan sekian banyak user tersebut harus terpenuhi
dalam satu produk. Computer Supported Cooperative Work (CSCW) pertama kali
digunakan oleh Irene Greif dan Paul M. Cashman pada tahun 1984, pada sebuah
workshop yang dihadiri oleh mereka yang tertarik dalam menggunakan teknologi
untuk memudahkan pekerjaan mereka.
Mungkin salah satu
contohnya penerapan CSCW pada bidang pendidikan yaitu dimana para siswa
melakukan kelas virtual dan saat itu sedang mengerjakan ulangan harian dimana
para siswanya saat melakukannya tidak benar-benar berada di kelas tetapi bisa
dimana saja yang memungkinkan siswa tersebut untuk bisa terhubung pada suatu
jaringan. Contoh lainnya yaitu fasilitas chating dimana seseorang bisa
berdiskusi melalui antarmuka teks tanpa harus bertatap muka secara
langsung.
Tujuan CSCW, yaitu :
1) Mempelajari
bagaimana orang bekerja sama sebagai kelompok dan apa yang mempengaruhi teknologi
2) Mendukung
proses pelaksanaan pekerjaan walaupun secara geografis dipisahkan
Contoh yang digunakan pada
CSCW adalah
1) Kaloborasi
para Ilmuwan yang bekerja sama pada suatu proyek
2) Pengarang
mengedit suatu dokumen bersama-sama
3) Programmer
suatu sistem secara bersamaan
4) Bekerja
sama sebagai sharing atas suatu video bersama yang conferencing aplikasi
5) Para
pembeli dan para penjual melakukan transaksi secara eBay
B. Komunikasi
face-to-face
a. Bentuk
komunikasi yang primitif (dalam hubungannya dengan teknologi)
b. Mekanisme
komunikasi yang sangat kompleks
c. Tidak
hanya meliputi bicara dan pendengaran, tapi juga menggunakan bahasa tubuh dan
tatapan mata
Beberapa fenomena yang
mempengaruhi penggunaan computer-mediated communication:
1. Personal
space
Dalam komunikasi
face-to-face, setiap orang cenderung mempertahankan jarak tertentu dengan lawan
bicaranya. Konsep personal space berbeda untuk setiap negara/budaya. Masalah
personal space dapat timbul apabila percakapan dilakukan melalui video links.
2. Kontak
dan tatapan mata
Dalam berkomunikasi, kontak
mata memberikan beberapa petunjuk, a.l. perasaan tertarik/bosan,
otoritas/power, kehadiran sosial, dll. Video-tunnel memungkinkan kontak mata
bahkan seluruh ekspresi wajah.
3. Gerak
isyarat dan bahasa tubuh
a. Dalam
berkomunikasi, kita menggunakan tangan (gerak isyarat) untuk menunjuk sesuatu.
b. Beberapa
groupware system mencoba mengatasi hal tersebut dengan menggunakan group pointer.
c. Banyak
computer-supported meeting room menempatkan monitor pada meja sehingga para
peserta dapat saling melihat dengan jelas.
4. Back
channel
a. Response
dari pendengar berupa gerakan tubuh disebutback channel.
b. Dengan
adanya back channel, pembicara merasa bahwa pendengar cukup memahami
pembicaraan.
c. Beberapa
masalah berkaitan dengan back channel yang mungkin timbul dalam komunikasi
video, a.l.:
1) Komunikasi
video cenderung banyak menyoroti kepala dan bahu, sehingga kehilangan beberapa
gerak tubuh dan isyarat.
2) Layar
yang besar cenderung mengurangi detail sehingga mungkin kehilangan beberapa
informasi.
d. Audio
links (mis. telepon) hanya memiliki verbal back channel.
e. Komunikasi
berbasis teks biasanya tidak memiliki back channel.
5. Turn-taking
a. Turn-taking
adalah proses dimana peran dari pembicara dan pendengar ditukar.
b. Dalam
proses turn-taking, back channel biasanya merupakan bagian yang penting.
c. Terjadinya
proses turn-taking, a.l. karena:
1) Pembicara
menawarkan kesempatan kepada pendengar secara eksplisit, mis. mengajukan
pertanyaan.
2) Pembicara
memberikan gap singkat dalam pembicaraan.
d. Bentuk
pemberian gap dari pembicara terutama berhubungan dengan audio channel.
e. Masalah
yang cukup serius dalam kaitan dengan pemberian gap timbul dalam komunikasi
jarak jauh (komunikasi berbasis satelit) karena kelambatan waktu. Akan terjadi
gap sekitar 4 detik.
C. Percakapan
Tiga fungsi teori
percakapan dalam CSCW:
a. digunakan
untuk menganalisa catatan (transkrip), mis. konferensi elektronik. Ini akan
membantu memahami seberapa baik partisipan menyalin dengan komunikasi
elektronik.
b. digunakan
sebagai petunjuk untuk keputusan desain. Pemahaman percakapan normal antar
manusia menghindari kesalahan besar dalam perancangan media elektronik.
c. dapat
digunakan untuk mengarahkan desain, menstrukturkan sistem dengan teori.
1. Struktur
percakapan dasar
Pada tingkat yang lebih
tinggi, struktur percakapan dapat dilihat sebagai urutan giliran, biasanya pergantian
di antara partisipan.
2. Kontek
Setiap ucapan dan fragmen
dari percakapan sangat tergantung pada konteks yang digunakan untuk
menghilangkan ambiguitas dari ucapan. Ada 2 tipe konteks dalam percakapan:
1. konteks
internal, tergantung pada ucapan sebelumnya.
2. konteks
eksternal, tergantung pada lingkungan.
3. Breakdown
Breakdown dalam komunikasi
terjadi apabila terdapat perbedaan fokus dari pembicara dan pendengar.
Breakdown ini dapat diperbaiki dengan pertanyaan atau ucapan dari
pembicara/pendengar yang dapat menimbulkan fokus dialog yang sama.
4. Speech
act theory
Merupakan suatu analisis
yang detail dari struktur percakapan, biasanya digunakan untuk memberikan
petunjuk dalam perancangan Coordinator, yaitu sistem email terstruktur yang
komersial.
D. Komunikasi
Berbasis Teks
1. Dalam groupware yang
asynchronous (dan beberapa sistem synchronous), bentuk komunikasi langsung yang
dominan adalah berbasis teks.
2. Komunikasi berbasis teks
dalam sistem groupware seperti tiruan dari percakapan, sehingga terdapat
beberapa masalah dalam mengadaptasi antara 2 media.
Ada 4 tipe komunikasi
tekstual dalam groupware:
a. discrete; pesan langsung
seperti dalam email
b. linear; pesan partisipan
ditambahkan pada akhir dari catatan tunggal
c. non-linear; saat pesan
dihubungkan ke yang lainnya dalam model hypertext
d. spatial; dimana
pesan diatur dalam permukaan dua dimensi
Beberapa masalah yang
timbul dalam komunikasi berbasis teks:
a. Back
channel, Kehilangan back channel dan nada suara serta bahasa tubuh
pembicara.
b. Grounding constraint
Adalah sifat dari channel
dimana para pembicara berkomunikasi, meliputi:
1) cotemporality;
ucapan didengar segera setelah diucapkan
2) simultaneity;
partisipan dapat mengirim dan menerima pada waktu yang bersamaan
3) sequence;
ucapan-ucapan diurutkan
Dalam sistem berbasis teks,
partisipan yang berbeda dapat menyusun simultaneously, tapi kurang
cotemporality.
c. Turn
taking, Tidak adanya back channel menimbulkan kesulitan bagi pendengar
untuk menginterupsi percakapan (turn-taking).
d. Konteks, Hilangnya
back channel dan kemungkinan giliran yang overlapping, menyebabkan sulitnya
menentukan konteks dari ungkapan tekstual.
e. Hypertext, Berkurangnya
langkah dari percakapan berbasis teks berarti bahwa partisipan dipaksa untuk meningkatkan
granulity pesan. Ini dapat diatasi dengan pesan multiplexing.
E. Kelompok
Perilaku kelompok lebih
kompleks terutama apabila kita memperhatikan hubungan sosial yang dinamis
selama bekerja dalam kelompok.
1. Dinamika
kelompok
a. Peran
dan hubungan di dalam kelompok dapat berubah secara dramatis dalam suatu kurun
waktu saat melaksanakan suatu pekerjaan.
b. Nama
peran seseorang dapat menimbulkan masalah, mis. seorang disebut penulis buku
tapi sebenarnya ia hanya memberikan ide dan komentar tapi tidak menulis satu
kata pun.
c. Anggota
dan struktur kelompok juga dapat berubah setiap saat. Dengan keluar atau
masuknya anggota dalam kelompok dapat mengubah perilaku kelompok.
d. Anggota
kelompok yang baru memiliki masalah khusus dalam beradaptasi dengan budaya
kelompok.
e. Sistem
groupware dapat membantu dengan cara mencatat sejarah dari kelompok.
f. Perancang
groupware harus menyadari bahwa anggota baru dapat masuk dalam kelompok dan
mendesain software sesuai dengan kelompok.
g. Kelompok
dapat dibagi dalam beberapa sub-kelompok yang bekerja secara mandiri dan
kemudian membagikan hasilnya kepada sub-kelompok lainnya.
2. Layout
Fisik
a. Orientasi
peralatan komputer dapat mempengaruhi kerja kelompok.
b. Semua
partisipan harus bisa saling melihat satu sama lain.
c. Pada
ruangan pertemuan elektronik:
· Manajer
tidak harus duduk di depan karena layar yang di depan dapat dikontrol dari
semua terminal
· lebih
baik duduk di belakang sehingga mereka bisa mengamati para peserta tanpa harus
melepaskan pandangan dari layar
3. Kognisi
Terdistribusi
a. Berpikir
tidak hanya terjadi di dalam kepala, tetapi juga dalam hubungan eksternal
dengan benda-benda di dunia dan dengan orang lain. Pandangan ini disebut
kognisi terdistribusi.
b. Kognisi
terdistribusi memiliki pengaruh besar pada cara melihat kerja kelompok bahkan
kerja individual.
c. Dalam
hal ini perlu adanya mediating representation, yang merupakan alat
komunikasi antara kelompok dan perwujudan nyata dari pengetahuan kelompok serta
membentuk pengetahuan kelompok yang baru.
d. Dalam
perancangan groupware yang efektif, desainer perlu memusatkan analisisnya pada
situasi kelompok saat itu dan merancang groupware pada representasi eksternal
yang dapat digunakan oleh seluruh partisipan.
4. Studi
Eksperimental
Kompleksitas dari
komunikasi manusia-manusia dan kerja kelompok membuat studi eksperimental dari
kelompok dan groupware menjadi lebih sulit dibandingkan dengan eksperimen
single-user. Misalkan kita akan mengevaluasi aplikasi yang digunakan
bersama-sama dengan koneksi video antar partisipan. Kesulitan-kesulitan yang
mungkin timbul adalah:
a. Membutuhkan
subyek yang lebih banyak dan waktu yang lebih lama dibandingkan eksperimen
terhadap sistem single-user.
b. Sulit
memilih tugas yang tepat, karena tipe tugasnya yang akan dites sangat
bervariasi.
c. Pengumpulan
datanya membutuhkan perlengkapan video dan log yang banyak, yang mungkin
tersebar di beberapa tempat.
d. Pada
tahap analisis, perbedaan statistikal sangat ekstrim.
5. Studi
Lapangan
a. Banyak
pendapat yang mengatakan bahwa kerja kelompok hanya dapat dipelajari dalam
situasi kerja yang sebenarnya.
b. Sesuai
dengan ide kognisi terdistribusi, tindakan nyata adalah tindakan berdasarkan
situasi, tergantung pada interaksi dengan benda dan manusia pada tempat kerja.
c. Pendekatan
yang paling sesuai dengan CSCW adalahethnography, yaitu didasarkan pada
pencatatan yang detail tentang interaksi antara manusia dan interaksi antara
manusia dengan lingkungannya.
F. Faktor-faktor
Organisasi
Faktor organisasi cukup
berpengaruh terhadap dukungan dan relevansi dari sistem groupware pada
khususnya, dan teknologi informasi pada umumnya.
Beberapa faktor organisasi
yang berpengaruh adalah :
1. Siapa
yang mendapatkan keuntungan?
a. Sering
terjadi ketidakseimbangan antara mereka yang mendapatkan keuntungan dengan
mereka yang melaksanakan pekerjaan.
b. Dalam
sistem groupware, seharusnya ada tingkat simetri, yaitu apabila seseorang harus
bekerja untuk sistem, ia harus memperoleh keuntungan dari sistem tersebut.
2. Masalah
free-rider
Sumbangan dari setiap
partisipan tidak sama, ada yang hanya memberikan sumbangan yang sedikit
(free-rider), dan mereka mengambil keuntungan dari kerja anggota kelompok yang
lain.
3. Critical
mass
a. Dalam
kaitan dengan biaya/keuntungan, semakin sedikit pemakai semakin kecil
keuntungan dibanding biaya.
b. Setiap
sistem groupware yang baru harus dirancang agar memiliki keuntungan yang lebih
besar daripada biaya meskipun pemakainya sedikit.
4. Kerja
sama atau konflik?
a. Orang-orang
dalam organisasi atau kelompok sering memiliki tujuan yang konflik dan
pertemuan merupakan salah satu jalan untuk menyelesaikan konflik tersebut.
b.Yang
perlu diperhatikan sebelum menginstal sistem komputer adalah mengidentifikasikan takeholder yang akan terpengaruh oleh sistem tersebut.
5. Mengubah
struktur kekuasaan
a. Garis
kekuasaan dan informasi dalam suatu organisasi cenderung mengalir ke atas dan
ke bawah melalui manajemen garis.
b. Media
komunikasi yang baru mungkin mengacaukan struktur manajerial yang formal, mis.
sistem email.
c. Teknologi
sebisa mungkin sesuai dengan struktur organisasi dan sosial yang ada.
6. Pekerja
yang tidak kelihatan
Kemajuan dalam
telekomunikasi memungkinkan adanya tele-working dari rumah sehingga membuat
pekerja jarang terlihat oleh manajemen.
7. Mengevaluasi keuntungan
a. Keuntungan
dari groupware, terutama email atau electronic conferencing, berhubungan dengan
kepuasan kerja atau aliran informasi.
b. Video-wall
diharapkan membantu kontak sosial di dalam organisasi.
c. Meskipun
sistem groupware dinilai bermanfaat, tapi sulit untuk mengukur keuntungannya
karena menyebar di seluruh organisasi.
DAFTAR PUSTAKA
· Wilson,
P. (1991). Computer Supported Cooperative Work: An Introduction.
Kluwer Academic Pub.
Kinerja Team
NPM
|
NAMA
|
JOBDESK
|
LINK
|
10514263
|
Adinda Fajarnindyah
|
Editor
|
|
11514407
|
Annisa Windra Septiva
|
Typing
|
|
12514246
|
Bunga Anugrah Gusti
|
Typing
|
|
15514785
|
Kartika Iasyah
|
Typing
|
|
17514749
|
Nadira Raycha
|
Searching
|
|
18514141
|
Nur Andyni
|
Searching
|